On Life We Hold Onto


Diambil dari Mind your step- ICAD 2012
Setelah menikah dan pindah ke Manchester, pertemanan saya semakin beragam. Saya banyak bermain dengan beragam kawan seperti yang sudah punyak anak, yang sedang hamil, dan yang masih lajang. Kawan-kawan yang saya temui pun beragam. Ada yang berbeda hampir dua dekade sehingga Akang selalu menggoda saya dengan mengatakan saya dianggap anaknya. Ada juga yang umurnya sama dengan adik saya tapi kami bepergian layaknya kawan sebaya.

Hal ini memperkaya obrolan dan cara saya memandang hidup. Entah mengapa, ketika kita jauh dari kampung halaman secara otomatis mereka yang ditemui di rantau memiliki hubungan yang lebih erat sekalipun tidak melulu bertemu on daily basis. Hubungannya sudah hampir seperti keluarga, pun masing-masing relatif terbuka untuk bercerita. Anggapannya, cerita ke siapa lagi kalau bukan kawan dari negara sendiri.

Ada cerita tentang ingin lahiran normal tapi karena terlalu berisiko, maka operasi caesar lah yang ditempuh. Ada cerita tentang ingin segera punya anak tapi barangkali Tuhan menghendaki penataan yang lain terlebih dahulu. Ada cerita tentang ingin berkarir dulu tapi terlalu sepi melajang. Ada cerita tentang memiliki anak dan lalu memiliki kekhawatiran lainnya. Ada cerita ingin sekolah juga seperti pasangannya, hanya saja rezeki dan kesempatannya belum bisa diraih. Ada cerita ingin bekerja sesuai profesi saat pasangan berangkat sekolah namun yang ada adalah peluang usaha yang lain.

Satu hal yang pasti, hidup adalah hidup. Apa yang diinginkan belum tentu yang terbaik dan dibutuhkan sehingga barangkali Tuhan berkata belum atau Tuhan berkehendak mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Barangkali hanya perlu mensyukuri karena hidup sempurna itu adalah konsep. Bila memiliki yang dimiliki orang lain toh tidak menjadikan saya seseorang yang lebih baik dan bahagia.

Saya tidak sepakat dengan ucapan terlambat atau terlalu cepat. Menikah, punya anak, melanjutkan pendidikan, atau apapun milestones dalam kehidupan ini; rasanya tidak sepantasnya dibuat targetan dengan acuan lini masa. Karena tiap-tiap orang menjalani lini masa yang berbeda. Dan tidak ada kewajiban untuk kita menjalani lini masa yang sama dengan orang lain.

Barangkali akan lebih ringan untuk menjalani apa yang dimiliki saat ini, di sini. Seperti mensyukuri aroma linen dan cucian yang menyelimuti rumah atau juga mensyukuri pasangan yang pulang lebih awal dari biasanya. Barangkali akan lebih ringan bila cukup berbahagia dengan hidup orang lain tanpa harus membandingkan. Tidak ada kompetisi untuk menjadi lebih dan paling bahagia toh ;)

Just a note to self,"Perhaps when we can't get what we want to achieve, sort of, we just have to realise that it doesn't make us any less."

Komentar