Mengigau Lagi

Sejak memantapkan diri dengan topik yang akan diteliti di studi mendatang, debat mengenai pro dan kontra terhadap teknologi, khususnya teknologi komunikasi, menjadi semakin alot di diri saya. Saya yang senang menggunakan teknologi sebagai silent reader sering merasa konyol dan tertohok seketika. Pasalnya saya semakin sadar, bahwa ruang yang tumbuh dari keberadaan teknologi komunikasi sesungguhnya adalah ruang virtual bukan tempat yang sesungguhnya kita huni sehari-harinya. Tapi entah kenapa, rasanya persepsi kita terhadap ruang tersebut menjadi terlalu serius.

Ada pertanyaan yang pernah saya dengar secara tidak sengaja, tapi sukses membuat saya terjaga semalaman. Kamu lebih bahagia disenyumin orang  atau dapet emoji senyum? Emang parameter bagus engga itu adalah likes yang banyak ya? Eh, terus kalo lu ga pos foto bareng dia terus artinya gak temen gitu? Terus, emang kalo gua ngilang dari medsos artinya gua lagi ada masalah yak?

Ternyata teknologi komunikasi telah menjadi game-changer. Banyak hal berubah karenanya. Pola hidup, perilaku, dan cara kita melakukan praktik di dalam kehidupan sehari-hari.

Perlahan, seperti tercipta lingkungan baru yang tersusun atas data yang membuat kita berinteraksi dan beraktifitas di sana. Ruang virtual tersebut. Ruang kencan jarak jauh bagi pasangan yang sedang terpisah jarak, ruang cerita tanpa tatap muka antara ibu dan anak, ruang berbicara melalui teks dan emoji dalam sebuah layar, dan ruang berinteraksi publik di mana yang punya ruang mengatur sedemikian rupa kontennya. Ruang baru, itu, ya ruang baru itu. Bukan lagi lapangan luas penuh keringat dan bau matahari, bukan ruang intim yang tercipta ketika ibu dan anak berpelukan, bukan lagi trotoar tempat tetangga saling berpapasan dan lupa waktu karena bicara, bukan, bukan lagi ruang realitas. Bukan lagi ruang fisik itu.

Dan tanpa sadar kita bermigrasi. Tersedot ke ruang yang baru dan bersikap seolah ruang yang baru sama saja esensinya dengan ruang yang perlahan kita tinggalkan.

Entahlah, ini adalah hal yang saya masih cari tahu lebih dalam lagi. Yang saya percaya hari ini, saya sedang berusaha menjadi orang yang cukup saja. Tahu tapi tidak terhanyut. Hal tersebutlah yang membuat saya mengurangi konsumsi waktu saya di ruang tersebut atau bahkan menonaktifkan beberapa akun yang membuat saya kurang bahagia. Semakin hari, saya semakin menyadari bahwa bahagia pun adalah pilihan. Dan apa-apa yang kita butuhkan termasuk apa-apa yang mampu membuat kita bahagia, sebenarnya sudah kita miliki. Ada di dalam diri kita.

Peace, love, en gaul,


T

Kehidupan ruang realitas nan analog yang indah dalam serial Reply 1988

Komentar