Memori

Tiba-tiba ingatanku sampai pada dua tahun lalu. Sebuah kota kecil di negara terpadat, dengan berbagai pabrik berat melingkupi. Suhunya sebelas derajat di bawah titik beku. Bila tidak mengenakan sarung tangan, kulit di sekitar kuku bisa terluka. Perasaan asing dan dingin bermetamorfosa menjadi pilu. Entahlah, yang terpikir bahkan bukan London lagi, tapi kota hujan yang masih puluhan kilometer dari Jakarta.

Setiap harinya tempo begitu cepat. Mulai dari memberikan bimbingan kepada mahasiswa, pengecekan kemajuan desain, dan mengerjakan disertasi sendiri. Saya pun terlalu lelah untuk berbagi. Sinyal buruk dan berbagai aplikasi tidak mendapat akses. Sesekali beruntung bisa terhubung dengan yang di London atau Bogor. Seringkali hanya memandangi laman aplikasi, menunggu tanda terkirim muncul. Bicara dengan yang ada tidak terlalu membantu, kami semua sedang kacau dan saya terlalu malas untuk menerjemahkan isi kepala dan hati dalam bahasa yang bukan natural saya.

Suatu hari malam lebih pekat juga lebih dingin. Ada saya di ruang itu dengan yang lain. Dan tiba-tiba ada meja-meja terlempar, ada bentakan, ada kutukan, dan berbagai hal lain yang tidak ingin saya dengar. Dia siapa? Bagi saya dia tidak lebih dari monster yang memantapkan posisinya sebagai antagonis.

Hari itu dan hari-hari setelahnya saya tahu apa itu sendiri. Nyata. Saya tahu bagaimana terjebak dalam ketidakmampuan dan ketakutan untuk memilih. Padahal mungkin saya bisa melakukannya.

Hari ini masih ada sesal, seperti pernah meninggalkan diri sendiri. Padahal bisa saja saya lebih sayang pada diri saya dua tahun silam.

Saya terus membatin hingga hari ini,"Mungkin Tuhan ingin saya belajar hal lain."


Komentar