LPDP in a Nutshell

Sebelum saya panjang lebar bercerita, saya ingin menyebutkan sekali lagi bahwa apa-apa yang ditulis di sini sifatnya sangat personal sehingga barangkali ada detil yang terlupa, fakta yang inakurat, dan emosi yang berlebihan. Terlepas dari itu semua; saya tetap berharap pun ketika ada yang membaca tulisan ini, tulisan ini mampu memberi sedikit manfaat.

Singkat cerita, saya mempersiapkan sekolah magister saya sejak awal tahun 2014 hingga pertengahan tahun. Lebih kurang saya membutuhkan waktu sekitar setengah tahun untuk mempersiapkannya. Persiapan sekolah saya dilakukan paralel dengan pengerjaan start-up furnitur yang dilakukan bersama beberapa teman SMA. Sehingga meskipun  bobot kegiatan tetaplah banyak, kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan sifatnya tidak rigid sehingga tetap memberikan saya ruang untuk berdiskusi dengan dosen S1 saya, mengumpulkan surat rekomendasi, dan mengerjakan esai universitas maupun beasiswa.

Lalu bagaimana dengan jeda dari kelulusan hingga akhir 2013? Sambil mengerjakan start-up, saya tengah mencari jawaban melalui riset. Jawaban pertanyaan besar selepas lulus, tentang apa yang ingin saya lakukan setelah lulus. Bekerjakah? Lanjut kuliahkah? Jika bekerja, ingin menjadi desainer yang seperti apa? Jika kuliah lagi, ingin mendalami arsitektur yang seperti apa?

Hal-hal tersebut ternyata bukan sesuatu yang bisa didapat jawabannya dalam satu malam. Butuh riset, butuh diskusi, butuh kontemplasi, dan butuh rangkaian peristiwa yang membuat saya akhirnya yakin atas satu pilihan.

Dalam jeda setengah tahun tersebut, saya pun memaksakan diri untuk mempersiapkan dan mengikuti tes IELTS. Saya yang gemar mencari pertanda berusaha menyerahkan pada pemilik semesta, jika memang baik untuk melanjutkan sekolah maka harapannya IELTS saya dicukupkan. Jika lebih baik untuk bekerja, maka IELTS saya diberikan saja kurang dari yang dibutuhkan. Kala itu, saya sudah cukup legowo dengan apapun hasilnya.

Voilla! Alhamdulillah, hasilnya lebih dari cukup dan saya pun mantap jiwa untuk melanjutkan langkah berikutnya dalam mempersiapkan studi magister saya.

Secara umum, persiapan studi yang lalu dibagi menjadi dua bagian :
  • Mendapatkan sekolah
  • Mendapatkan beasiswa LPDP
Catatan 00; banyak yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan beasiswa seseorang harus mendapatkan sekolah terlebih dahulu. Pada kenyataannya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Buktinya, ada seseorang seperti saya yang bisa mendapatkan beasiswa sebelum diterima di sekolah tujuan. Kalau menurut opini saya pribadi, tidak melulu mendapat beasiswa harus dicapai dengan mendapat sekolah terlebih dahulu. Meskipun bila sudah mendapat sekolah saat mendaftar LPDP tentunya bukan hal yang buruk juga. Yang lebih penting adalah kita tahu kita mau ke mana. Universitas tujuannya apa, jurusannya apa, alasan kenapa harus belajar di sana dan bukan sekolah yang lain, apa yang ingin dicapai dengan studi di sana, apa yang bisa didapat dengan studi di sana terkait dengan perencanaan karir kita (yang tentunya terkait dengan kontribusi kita di Indonesia) dan juga bagaimana caranya untuk memperbesar kans kita untuk mendapat sekolah di sana.

Bicara tentang proses mendapatkan sekolah, saya ingin bercerita sedikit tentang urutan proses yang saya jalani seputar aplikasi sekolah maupun beasiswa :
  • Hal yang pertama saya lakukan adalah mendaftar sekolah yang terdiri atas empat persiapan :
    • menulis esai untuk kampus (statement of purpose). Bagian ini kurang lebih adalah tentang menceritakan mengapa kita memilih jurusan dan kampus tersebut, apa-apa saja pengalaman yang sudah kita miliki yang menunjang diri kita untuk belajar di sana, dan apa ekspektasi kita dengan menjalani studi di sana. Bagi saya pribadi, saya membutuhkan waktu cukup lama dari membuat kerangka penulisan, draft, melakukan proofreading kepada teman-teman yang saya percayakan, hingga akhirnya cukup percaya diri dengan apa yang saya tulis. Menurut opini saya, penulisan esai seperti ini bukanlah perkara salah dan benar. Karena memang kontennya berisi personal dan akademik di saat yang bersamaan sehingga mencontoh mentah-mentah dari esai yang bagus bukanlah opsi yang bijaksana. Kita membutuhkan contoh-contoh esai yang baik sebagai inspirasi, mempelajari tepatnya apa saja yang dikatakan dan bagaimana penulisnya menekankan bagian-bagian yang menarik. Setelah itu, kita membuat kerangka versi kita sendiri dengan gaya menulis kita yang bisa jadi berbeda dengan penulis esai sebelumnya. A little note to self : each of us is extremely unique and beautiful in our very own way 
    • melengkapi kebutuhan berkas administrasi (ijazah, transkrip, daaan rekan-rekannya). Karena kita adalah warga Indonesia, jangan sampai lupa untuk menerjemahkan dokumen-dokumen tersebut ke dalam Bahasa Inggris di layanan kampus masing-masing)
    • membuat portfolio untuk jurusan arsitektur, desain, atau seni (yang dalam kasus saya, saya membuat portfolio versi pdf dan juga film* agar bisa mendeskripsikan apa-apa yang sudah lakukan dengan lebih menyeluruh). Membuat portfolio ternyata butuh waktu agak lama. Pada saat itu, saya masih berhubungan dengan pembimbing tugas akhir saya. Sehingga pemikiran ceteknya sih jika Beliau sudah menilai portfolio saya layak dan memenuhi standar untuk berkompetisi dengan aplikasi lainnya, maka saya akan serta-merta mengirimkan aplikasi saya. Oh iya, jurusan yang saya inginkan adalah Interactive Architecture di The Bartlett School of Architecture, University College London yang kini sudah berubah nama jurusannya menjadi Design for Performance and Interaction. Portfolio saya memerlukan beberapa kali revisi dari segi pangaturan layout, bahasa kontennya, dan juga pemilihan image-image pendukung di dalamnya. Kurang lebih waktu yang saya butuhkan adalah tiga bulan hingga akhirnya saya mengirim berkas aplikasi saya di awal Maret 2014 ke tiga sekolah. Selain UCL, saya pun mendaftar The University of Edinburgh, Scotland dan University of the Arts London. Untuk dua sekolah lainnya saya mengambil jurusan Interior Design.
    • mengumpulkan dua buah surat rekomendasi. Hal ini bisa didapat dari dosen atau seseorang di lingkungan profesional (atasan misalnya). Menurut orang-orang yang sudah ahli, ada dua teori terkait surat rekomendasi. Pertama, semakin tinggi jabatan atau pendidikan orang yang merekomendasikan kita, maka surat rekomendasi kita akan semakin kredibel. Kedua, sebaik-baiknya surat rekomendasi diberikan oleh dosen yang memberikan nilai bagus kepada kita. Logisnya, buat apa reviewer aplikasi kita meloloskan seseorang yang bukan mahasiswa terbaik di bidangnya? Mengenai surat rekomendasi juga, kalau boleh memberi saran dari hati terdalam; beri waktu untuk bagian ini, berbesar hati, dan jangan mudah menyerah. Pasalnya, yang kita hadapi adalah beliau-beliau yang sehari-harinya penuh dengan kesibukan. Sehingga mereka tentunya membutuhkan waktu untuk menuliskan rekomendasi. Jika akhirnya mendapatkan waktu untuk menemui beliau yang akan dimintai rekomendasi, persiapkanlah dengan baik dalam artian kita membawa transkrip, portfolio atau bahkan tugas yang dulu dinilai oleh beliau dan hasilnya keren gitu hoho.
  • Setelah dosen saya menyatakan portfolio saya layak, saya pun mengirim aplikasi sekolah saya yang langsung dilanjutkan dengan pendaftaran LPDP. Harapannya, ketika saya dipanggil wawancara LPDP saya sudah diterima di sekolah tujuan saya. Pun kalau ketika wawancara saya belum mendapat pengumuman penerimaan sekolah, saya bisa menjelaskan posisi saya. Penjelasan saya terdengar begitu percaya diri akan diterima di sekolah tersebut ya? Hahaha, pada kenyataannya menunggu tetap membuat pikiran saya bercampur aduk. Antara berharap, khawatir, yakin, dan juga ikhlas. Tapi menurut saya, kita selalu bisa mengukur posisi kita dalam artian sebenarnya hati kita tahu apakah kita mendaftar dengan optimisme dan pesimisme. Kita pun bisa mempersiapkan diri kita untuk menjadi seseorang yang optimis atau berusaha seadanya dan menjadi pesimis. Meriset tentang studi dan mahasiswa di universitas tujuan, mencoba menghubungi alumni atau dosennya, dan masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan agar kita bersiap. Ada beberapa catatan kecil saya mengenai proses aplikasi LPDP saya :
    • LoA. Alhamdulillah, di hari wawancara berlangsung LoA saya keluar. Sontak saya ngejar ojek ke Cikini untuk ngeprint LoA saya dan kembali ke Gedung Kemenkeu tempat berlangsungnya wawancara. Sekembalinya saya, langsung saya serahkan LoA tersebut kepada panitia. What a luck :) Hal yang bisa ditarik adalah, mendaftar LPDP sebelum mendapat LoA sangatlah mungkin (tentunya dengan pertimbangan dan perencanaan yang juga dipersiapkan).
    • Wawancara. Teman-teman saya yang ternyata berbarengan waktu wawancaranya dengan saya semua berkomentar bahwa saya lama banget  diwawancaranya. Saya sendiri tidak paham dan hingga hari ini benar-benar tidak punya saran jika ditanya. Pasalnya, materi wawancara adalah hidup kita sendiri yang tidak sama dengan orang lain. Sehingga yang bisa dilakukan hanya bersikap tenang dan bersiap. Kalau boleh jujur, untuk menghadapi wawancara saya sengaja mampir ke Kampus Depok untuk bertemu tiga orang dosen dengan bidang yang berbeda untuk mendalami beberapa materi seputar arsitektur yang saya minati (perkembangan metode, perkembangan praktek arsitektur, dan desain yang inklusif). Saya meminta saran bacaan dari beliau-beliau yang kemudian menjadi salah satu amunisi persiapan saya. Saya pun beruntung karena beliau-beliau sangat mendukung rencana saya dan memberikan masukan tentang isu-isu arsitektur yang sedang dan kemungkinan akan muncul. Sehingga saya bisa memikirkan dan mengukur posisi kontribusi yang bisa saya lakukan kemudian.
    • Leaderless Group Discussion. Kalau ada yang berkata cara paling aman untuk menyelesaikan sesi ini adalah dengan menjadi moderator ataupun penulis notulensi, jangan percaya. Di dalam opini saya leaderless seperti memberikan kesempatan yang sama pada semua peserta forum tanpa ada hirarki. Sehingga yang perlu menjadi fokus adalah kontribusi kita dalam diskusinya. Materi yang saya dapat kala itu adalah ketahanan pangan. Ketika semua orang bicara soal teknologi dan kebijakan, saya menyoroti iklan layanan masyarakat kita yang masih bisa dikembangkan dalam segi konten dan visualisasinya. Saya rasa kalau kualitas iklan layanan masyarakat kita seperti iklan produk olahan tembakau, seharusnya  pesan seperti alternatif pengganti bahan pangan (guna menciptakan ketahanan pangan) bisa tersampaikan ke masyarakat. Momen tersebut memberikan pencerahan bahwa saya tidak harus tahu semua keilmuan, pun saya tidak perlu berargumen terkait materi yang tidak saya kuasai. Tapi saya bisa menggunakan bidang saya untuk melihat sebuah isu dengan sudut pandang yang berbeda. Menurut saya momen tersebut berarti. Fasilitator di dalam ruangan saya yang merupakan pihak LPDP memberikan apresiasi positif atas jawaban saya.
    • Lagi. Surat rekomendasi. Berbeda dengan surat rekomendasi universitas, saya meminta surat rekomendasi dari salah satu tokoh lingkungan hidup. Alasan saya adalah setelah melakukan riset mengenai kegiatan, nilai, visi, serta misi LPDP, saya merasa bahwa LPDP tidak hanya mencari digit indeks prestasi tapi juga melihat portfolio kita di dalam masyarakat. Sehingga saya mencari seseorang yang bisa memberikan penilaian terhadap sisi non-akademik saya.

Setelah menunggu beberapa waktu, saya pun lolos menjadi awardee dan dipersilakan untuk mengikuti kegiatan Program Kepemimpinan (sekarang Persiapan Keberangkatan). Kegiatannya berkisar apa saja bisa dilihat melalui video ini.


Dalam waktu seminggu, program ini sukses membuat saya memiliki keterikatan emosional dengan teman-teman baru. Menurut saya program ini cukup baik untuk menanamkan pesan pulang untuk mengabdi saat selesai menempuh studi. Lebih menarik lagi, setelah pulang para awardee  diberikan kesempatan untuk mengikuti program Talent Assessment yang bekerja sama dengan salah satu konsultan terbaik di Indonesia. Saya sangat mengapresiasi perencanaan pihak LPDP yang bisa dibilang cukup sustain. Tidak hanya sekedar menyediakan beasiswa, tetapi juga berusaha menanamkan nilai dan juga menyediakan program lanjutan saat para awardee kembali ke tanah air.

Kurang lebih itulah cerita singkat mengenai saya dan LPDP. Ada banyak konten yang barangkali personal tapi saya tetap berharap bisa memberikan 'aha' momen bagi yang membaca :)

**

Komentar