Dongeng tentang Tuan Corrigan

Workshop tentang Ruang dan Shadow Puppetry (Wayang); IAL 2015

Perjalanan penelitian ini membawa saya kepada banyak hal. Tidak hanya sekadar penemuan yang terkait pengetahuan bidang yang saya pelajari, tetapi juga tentang pemahaman akan kedalaman yang lain.

Singkat kata saya menemukan disertasi seseorang bernama Dr. Mewburn yang meneliti tentang proses pembelajaran arsitektur. Latar belakang beliau ini adalah lulusan arsitektur di tahap sarjana dan magister. Selama hampir satu dekade juga beliau mengambil jalur praktisi sebagai seorang profesional.

Saat disertasi, salah satu pengamatan yang dilakukannya adalah mengamati proses pembelajaran di sebuah studio arsitektur. Ada seorang legenda di universitas tersebut, namanya Tuan Corrigan. Tuan Corrigan memiliki keyakinan dan prinsip yang berbeda dengan para edukator kebanyakan. Pun beliau telah mencetak  banyak sekali arsitek hebat lintas dekade sepanjang hayatnya (beliau meninggal Desember 2016 lalu).

Tuan Corrigan menjalankan studionya dengan cara yang berbeda. Alih-alih memberikan perkuliahan di studio, beliau mengadakan perkuliahan di kantor bironya. Hal tersebut berlangsung selama satu semester, durasi sebuah studio berjalan.

Pembawaan beliau tenang, sikapnya eksentrik, dan hawa keberadaannya sangat kuat. Sedikit gestur memberikan dampak entah itu sensasi atau perasaan tertentu pada mahasiswanya. Terlebih lagi beliau sangat taat pada aturan. Ya atau tidak, tanpa menyisakan sedikitpun ruang abu-abu. Tidak sedikit yang kemudian tergagap atau memiliki perasaan hibrida. Antara segan dan enggan.

Terlepas dari semua itu, ada kalimat-kalimat yang rasanya harus dikutip di laman ini. Disimpan dengan rapi, kalau-kalau suatu saat hati campur aduk maka ada pemahaman yang telah dijangkar.

“I don’t bother to teach design – they have to teach themselves. I’m more concerned with character."

Kalimat tersebut muncul saat ada yang mengkritisi cara beliau mengajar. Sepanjang waktu beliau hanya memediasi diskusi dengan memunculkan beragam pertanyaan. Tidak pernah ada komentar mengenai baik-buruk atau juga benar-salah. Namun beliau akan langsung menegur dan memberi sanksi jika ada yang melanggar etika semisal melewati tenggat waktu. Karena baginya hal tersebut adalah bagian dari pembelajaran karakter di mana di dunia nyata people won't bother to remind us anymore-people would give you consequences.

Di sisi lain, beliau memposisikan dirinya sebagai fasilitator atau sebut saja coach alih-alih dosen bentukan paradigma di tahun 1800-an. Arsitektur, yang mana bertalian dengan subjektivitas, tidak bisa dihakimi dengan baik-buruk atau benar-salah. Semua ada konteksnya. There will always be certain people for certain architecture. Maka dari itu, yang bisa beliau lakukan adalah mengkondisikan mahasiswanya mendesain sesuai dengan gaya mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak lebih dan tidak kurang. Dan lagi, itu semua berakar dari karakter. Berani mengambil resiko, mengambil keputusan, dan berani membuat (mendesain).

Baru sampai cerita tentang penelitian Dr. Mewburn, saya jatuh hati. Entah dengan bidang arsitektur dan segenap probabilitas yang dia tawarkan untuk berpikir dan berbuat, pun dengan profesi sebagai edukator dan lagi segenap probabilitas yang hadir karena adanya.

Di salah satu bagian dalam disertasinya, Dr. Mewburn pun menulis sebuah bagian yang seolah off record. Beliau bercerita tentang sebuah momen di mana beliau sedang memberikan bimbingan di studio. Beliau melakukan tatap muka secara individual dengan setiap mahasiswanya untuk mendiskusikan progres desain mereka.

Salah satu mahasiswa mendesain gedung pencakar langit yang mirip salah satu gedung tertinggi di Dubai. Beliau mengernyit, rasanya desain yang ada tidak sesuai dengan petunjuk tugas yang diberikan di awal semester. Seharusnya dia mendesain sebuah pusat kebudayaan, begitu batin beliau. Dia pun memberikan komentar,"You are not on the right track."

Alih-alih memasang muka takut atau kecewa, mahasiswa tersebut membelalakkan matanya penuh pertanyaan. "Why is that? Cause I intend to blablabla..." menjelaskan mengapa dia berpikir bahwa gedung pencakar langit dengan seratusan lebih lantai merupakan sebuah solusi untuk sebuah konteks. Dan momen tersebut pun menjadi refleksi bahwa apa yang sebelumnya dikatakan oleh Dr. Mewburn bukanlah hal yang paling tepat sebagai seorang edukator. Kalau saya merasa pusat kebudayaan seharusnya merupakan bangunan bentang lebar, mengapa mahasiswa tersebut harus berpikiran seperti itu juga, begitu pikirnya. 

I wondered: how was I going to be his coach for the rest of the semester if he wasn’t going to play the game I knew?

Terakhir, Dr. Mewburn menceritakan sebuah momen saat presentasi di mana seorang mahasiswa dihujani begitu banyak kritik pedas dan lalu tampak mulai terbata-bata. Tidak, Tuan Corrigan tidak memberikan komentar yang sifatnya terkait dengan desain. Melainkan beliau berkata demikian,"You must defend the work. Always - even if it’s rubbish. Then go outside and cry if you must, but you must learn to defend."

Pada bagian tersebut saya dibuat berhenti dan menandai aplikasi Mendeley saya dengan "Gimana dong ga kuat baca part ini, mberebes mili."

Momen-momen tersebut membawa nostalgi tersendiri. Terasa dekat di hati bagi saya yang mengalami proses belajar dan mengajar.

Karakter, ya karakter. Tiga tahun saya memaki ketika saya yang mengumpulkan tugas sejadi-jadinya dan akhirnya mendapat nilai pas-pasan di mana ada yang melampaui tenggat waktu karena perfeksionis tetapi tetap mendapat nilai A. Di masa itu, saya yang ingusan terlalu fokus dengan indeks dan digit. Padahal seharusnya saya santai saja dengan apa yang saya percaya dan tidak harus ambil pusing dengan dunia luar. Saya tidak tahu dengan pasti bagaimana saya dinilai hari ini, tapi yang saya yakin saya tidak ingkar dengan mimpi sendiri hingga hari ini. Dan itu, lebih dari cukup. Barangkali hingga akhir hayat, karakter tidak selalu membuat segalanya lebih mudah. Tapi saya percaya, karakter akan membuat segalanya lebih bermakna. Setidaknya untuk saya sendiri dan mereka yang percaya dengan saya.

p.s. Untuk beliau-beliau-beliau yang pernah mengaspirasi saya untuk nyemplung di sini. Terima kasih.


 


Komentar